Powered By Blogger

Senin, 23 September 2013

Tentang Kau dan Dia


Vilyhe Vaytha

Takdir Kita

   Tuhan menciptakan dirimu dan dirinya dihidupku, untuk ku cintai.
   Mungkin ini teramat sulit untukmu. Tapi satu hal kamu yang harus tahu, dirinya dan dirimu hanya dalam satu cinta dihatiku.
   Aghh,,, cinta tak dapat ditebak kapan datang dan perginya. Tetapi kamu tak dapat mengelak kenyataan ini sayang, karena aku juga tak menginginkan semua ini. Tetapi inilah takdirmu, takdirku, takdir kita.
   Pagi itu, sepulang dari toko buku, aku dan Atha, adik iparku menyebrang menggunakan jembatan selayang. Kami berjalan dengan pikiran masing-masing.
   Tiba-tiba teman lamaku menelfonku. Dibarengi isak tangis, ku terima sebuah kabar yang membuat langkah kakiku terhenti. Jantungku pun ikut terhenti sejenak.
        “tak mungkinnnn,,,,,,,” desisku pelan
Brukkkkkk,,,,,,,,,,,,
   Suara itu membuatku terkaget. Ku lihat Atha tergantung di jembatan itu, sebab papan penyanggahnya roboh.
   Tanpa pikir panjang aku berlari, tetapi,,, aku malah terperosok pada robohan yang baru.
Duarrrr,,,,,,,,,
   Aku terjatuh, tepat pada sebuah truk berisi pupuk. Atha menjerit memanggilku
        “kak Vaytaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,”
   Aku langsung di bawa ke RS dan tak sadarkan diri selama lebih 3 hari.
   Saat itu Anthony dan Fizu langsung ke RS dan menelfon ortuku. Dan mamaku, juga mama Anthony langsung berangkat ke Medan. Beliau mendapat kabar, bahwa putrinya, Atha kecelakaan.
   Sewaktu mama memasuki kamar tempat aku dirawat, mama menemui Anthony sedang duduk disisiku dengan mata sembab dan berkata: yank cepat sembuh.
   Tetapi setalah mama datang, Anthony langsung mempersilahkan mama duduk.
        “ada apa dengannya?” tanya mama setelah terdiam sejenak melihat keadaanku.
        “dia jatuh dari jembatan selayang nantulang” jawab Anthony
        “siapa yang menelfon tadi? Apakah kamu?” tanya mama
     “ea nantulang,,, sebenarnya dia tadi bersama adikku waktu kejadian itu, tetapi adikku hanya tergantung disana!” tutur Anthony
   Malamnya Atha dan mamanya datang ke RS. Mama menyalam dan langsung memeluk mamanya.
        “sabar eda ya,,,”
     “ea da,, entah bagaimana lagi ini semua” kata mama sambil menangis.
   Saat mama dan mamanya bercerita, Anthony hanya duduk termenung menatapiku. Sedang Fizu dan Atha menatapi Anthony yang tak tahu harus bagaimana membangunkanku.
   Tiba-tiba aku mengigo memanggil nama Agus. Semua tersentak kaget, tetapi yang lebih kaget adalah Anthony. Dia menatap mama dan Fizu bergantian.
   Mama langsung menghampiri Anthony dan mengusap punggungnya. Mama menarik nafas amat dalam mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan semuanya.
   Tetapi Anthony mengerti situasi itu. Dan sebelum mama cerita soal Agus, Anthony langsung berkata: nantulang sekarang itu tidak penting, yang penting sekarang bagaimana Vayta bisa cepat sadar dan sembuh.
   Mama amat terkejut dengan perkataan Anthony, mama tak menyangka Anthony punya pemikiran begitu.
   Sesudah mengigo, aku kembali terlelap dan semua terdiam lesu.
Sejam setelah kejadian itu papa nelfon. Beliau menanyakan keadaanku dan memberitahukan soal kepergian Agus.

Hari Kedua

   Temanku dan teman Anthony pada berdatangan. Mereka simpati dengan keadaanku. Terbukti karena mereka berusaha keras menuntut pemerintah daerah. Dan mereka meminta pemerintah daerah turun tangan dalam keadaanku yang masih kritis. Koran-koran banyak membahas soal diriku.
   Mama semakin hari semakin khawatir. Beliau takut aku tak akan bangun dari mimpi panjang itu, padahal keadaanku tidak begitu parah.
   Malamnya pukul 00.29 wib, aku kembali mengigo memanggil Agus. Waktu itu Anthony belum tidur. Sedang mama yang masih terjaga, langsung bangun tetapi tidak menghampiriku. Dari jauh mama melihat Anthony sedang menggenggam tanganku dan berkata: yank,, bangun yank,,, kasihan mama, papa. Dia berkata sambil meneteskan air mata kemudian berdoa. Usai berdoa, dia masih menatapiku tak berdaya.
   Melihat itu mama baru mengerti, mengapa aku begitu menyayanginya. Tetapi mama tak habis pikir mengapa harus Agus yang ku panggil dalam setiap igoanku, mengapa bukan Anthony.

Hari Ketiga,

   Papa dan papa Agus datang menjengukku. Saat itu yang menjagaiku tinggal mama dan mama Anthony, sedang Anthony kuliah. Saat itu juga aku kembali mengigo, memanggil Agus lagi. Papa Agus langsung menghampiriku dan berkata: sabar nak, dia udah tenang di alamnya,,, bangunlah,,, lihat masa depanmu yang begitu indah.
   Meski sudah tiga kali mengigo, tetapi aku masih belum bangun dari mimpi panjang itu. Aku masih terlelap dan terus terlelap.
   Sorenya sekitar pukul 15.32 wib,  aku mengigo memanggil nama yang berbeda. Aku memanggil ICAN (Icanth). Mereka heran. Mama terdiam sejenak dan langsung menelfon Fizu.
        “Zu,,, siapa yang bernama Icanth?”
      “ngak tau nantulang, tapi bentar aku Tanya Anthony” kata Fizu sambil mematikan telfonnya.
        “Thon tau ngak siapa Icanth? Vayta mengigo menyebut nama itu!”
   Mendengar itu Anthony, langsung cabut. Sambil berlari, Anthony berteriak pada teman-temannya: TA aku yah,,, dia sedang memanggilku.
   Melihat tingkah Anthony, temannya pun berkata: semoga Vayta sudah terbangun.

,,,bersambung,,,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar