![]() |
| Vilyhe Vaytha |
Takdir Kita
Tuhan menciptakan dirimu dan dirinya dihidupku, untuk ku cintai.
Mungkin ini teramat sulit untukmu. Tapi satu
hal kamu yang harus tahu, dirinya dan dirimu hanya dalam satu cinta dihatiku.
Aghh,,, cinta tak dapat ditebak kapan datang dan
perginya. Tetapi kamu tak dapat mengelak kenyataan ini sayang, karena aku juga
tak menginginkan semua ini. Tetapi inilah takdirmu, takdirku, takdir kita.
Pagi itu, sepulang dari toko buku, aku dan Atha,
adik iparku menyebrang menggunakan jembatan selayang. Kami berjalan dengan
pikiran masing-masing.
Tiba-tiba teman lamaku menelfonku. Dibarengi
isak tangis, ku terima sebuah kabar yang membuat langkah kakiku terhenti. Jantungku
pun ikut terhenti sejenak.
“tak
mungkinnnn,,,,,,,” desisku pelan
Brukkkkkk,,,,,,,,,,,,
Suara itu membuatku terkaget. Ku lihat Atha
tergantung di jembatan itu, sebab papan penyanggahnya roboh.
Tanpa pikir panjang aku berlari, tetapi,,, aku
malah terperosok pada robohan yang baru.
Duarrrr,,,,,,,,,
Aku terjatuh, tepat pada sebuah truk berisi
pupuk. Atha menjerit memanggilku
“kak
Vaytaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,”
Aku langsung di bawa ke RS dan tak sadarkan diri
selama lebih 3 hari.
Saat itu Anthony dan Fizu langsung ke RS dan
menelfon ortuku. Dan mamaku, juga mama Anthony langsung berangkat ke Medan. Beliau
mendapat kabar, bahwa putrinya, Atha kecelakaan.
Sewaktu mama memasuki kamar tempat aku dirawat,
mama menemui Anthony sedang duduk disisiku dengan mata sembab dan berkata: yank
cepat sembuh.
Tetapi setalah mama datang, Anthony langsung
mempersilahkan mama duduk.
“ada
apa dengannya?” tanya mama setelah terdiam sejenak melihat keadaanku.
“dia
jatuh dari jembatan selayang nantulang” jawab Anthony
“siapa
yang menelfon tadi? Apakah kamu?” tanya mama
“ea
nantulang,,, sebenarnya dia tadi bersama adikku waktu kejadian itu, tetapi
adikku hanya tergantung disana!” tutur Anthony
Malamnya Atha dan mamanya datang ke RS. Mama
menyalam dan langsung memeluk mamanya.
“sabar
eda ya,,,”
“ea
da,, entah bagaimana lagi ini semua” kata mama sambil menangis.
Saat mama dan mamanya bercerita, Anthony hanya
duduk termenung menatapiku. Sedang Fizu dan Atha menatapi Anthony yang tak tahu
harus bagaimana membangunkanku.
Tiba-tiba aku mengigo memanggil nama Agus.
Semua tersentak kaget, tetapi yang lebih kaget adalah Anthony. Dia menatap mama
dan Fizu bergantian.
Mama langsung menghampiri Anthony dan mengusap
punggungnya. Mama menarik nafas amat dalam mengumpulkan kekuatan untuk
menjelaskan semuanya.
Tetapi Anthony mengerti situasi itu. Dan
sebelum mama cerita soal Agus, Anthony langsung berkata: nantulang sekarang itu
tidak penting, yang penting sekarang bagaimana Vayta bisa cepat sadar dan
sembuh.
Mama amat terkejut dengan perkataan Anthony,
mama tak menyangka Anthony punya pemikiran begitu.
Sesudah mengigo, aku kembali terlelap dan semua
terdiam lesu.
Sejam setelah kejadian itu papa nelfon. Beliau
menanyakan keadaanku dan memberitahukan soal kepergian Agus.
Hari Kedua
Temanku dan teman Anthony pada berdatangan. Mereka
simpati dengan keadaanku. Terbukti karena mereka berusaha keras menuntut
pemerintah daerah. Dan mereka meminta pemerintah daerah turun tangan dalam
keadaanku yang masih kritis. Koran-koran banyak membahas soal diriku.
Mama semakin hari semakin khawatir. Beliau
takut aku tak akan bangun dari mimpi panjang itu, padahal keadaanku tidak begitu
parah.
Malamnya pukul 00.29 wib, aku kembali mengigo
memanggil Agus. Waktu itu Anthony belum tidur. Sedang mama yang masih terjaga,
langsung bangun tetapi tidak menghampiriku. Dari jauh mama melihat Anthony
sedang menggenggam tanganku dan berkata: yank,, bangun yank,,, kasihan mama,
papa. Dia berkata sambil meneteskan air mata kemudian berdoa. Usai berdoa, dia
masih menatapiku tak berdaya.
Melihat itu mama baru mengerti, mengapa aku
begitu menyayanginya. Tetapi mama tak habis pikir mengapa harus Agus yang ku
panggil dalam setiap igoanku, mengapa bukan Anthony.
Hari Ketiga,
Papa dan papa Agus datang menjengukku. Saat itu
yang menjagaiku tinggal mama dan mama Anthony, sedang Anthony kuliah. Saat itu
juga aku kembali mengigo, memanggil Agus lagi. Papa Agus langsung menghampiriku
dan berkata: sabar nak, dia udah tenang di alamnya,,, bangunlah,,, lihat masa
depanmu yang begitu indah.
Meski sudah tiga kali mengigo, tetapi aku masih
belum bangun dari mimpi panjang itu. Aku masih terlelap dan terus terlelap.
Sorenya sekitar pukul 15.32 wib, aku mengigo memanggil nama yang berbeda. Aku
memanggil ICAN (Icanth). Mereka heran. Mama terdiam sejenak dan langsung
menelfon Fizu.
“Zu,,,
siapa yang bernama Icanth?”
“ngak
tau nantulang, tapi bentar aku Tanya Anthony” kata Fizu sambil mematikan
telfonnya.
“Thon
tau ngak siapa Icanth? Vayta mengigo menyebut nama itu!”
Mendengar itu Anthony, langsung cabut. Sambil
berlari, Anthony berteriak pada teman-temannya: TA aku yah,,, dia sedang
memanggilku.
Melihat tingkah Anthony, temannya pun berkata:
semoga Vayta sudah terbangun.
,,,bersambung,,,,,,


Tidak ada komentar:
Posting Komentar