Powered By Blogger

Minggu, 22 September 2013

Kamu Inspirasiku


Vilyhe Vaytha

Kau dan Aku

            “besok ultaku, tinggal 19 jam lagi… hufhhhh,,,,,” desah panjangku keluar lagi, yang akhir-akhir ini senantiasa menemani hariku.
   Semenjak putus dengannya, 16 Maret lalu. Aku lebih banyak  mendesah, mengenang sebulan sebelum ulang tahunku kami berpisah.
   Kemarin kami bertemu di lantai dasar. Dia tersenyum dengan senyuman khasnya, yang selalu membuatku merindu.
   Senyum itu membuat darahku berdesir dan rasa bahagia mengalir dari ubun-ubunku. Tetapi rasa itu menghilang seketika, waktu dia memanggilku “ito”.
   Air mataku bergumpal dalam bendungan, ingin merembes tetapi ku tahankan. Dengan sabar, ku kuatkan hatiku menyebut “ito” juga padanya. Padahal selama ini aku ingin mendengar bibir lembut itu menyebut “hasian”. Sama seperti dulu waktu bersama.
   Kini jam menunjukkan pukul 16.20 wib. Sekitar tujuh jam lagi 16 April menjemput. Aku semakin mengeluh, mengenang tak ada pertanda dia akan kembali. Sama seperti harapanku selama ini.
   Aku mulai lelah duduk termenung di sudut taman ini. Ku beranjak. Melangkah kemana pun langkah kakiku menuntun. Kepalaku kini dipenuhi dengan beribu pertanyaan yang tak mungkin ku jawab. Hatiku pun sesak membuatku tak sadar kemana aku melangkah. Aku linglung.
   Sejenak aku tersadar. Aku sudah berada di tengah jalan raya, dan tiba-tiba
Bruukkkkk……
Aku terpental.
   Sebuah tangan terulur menopangku bangkit. “senyum itu” bisikku
   Rasa yang ku rasakan semalam, kini ku rasakan lagi. Dan sebuah kata mengalir dari bibir lembut itu “bangkitlah hasian”
Tanpa pikir panjang, aku bangkit dan berdiri di sampingnya. Dia mengajakku melangkah bersama.
   Aku tak peduli dia mengajakku kemana pun yang dia mau. Aku hanya ingin pergi bersamanya. Dan aku tak peduli ini mimpi atau tidak. Rasa egoisku ingin bersamanya, membuatku tak perduli itu semua.
  Di sisi lain. Aku sedang dalam perjalanan menuju RS.
Sementara aku bahagia dalam mimpi, pergi bersamanya. Dalam keadaan nyata nyawaku dalam keadaan terancam. Aku jatuh pada titik tidak sadarkan diri pada jangka waktu lama.
   Mama dan papa langsung berangkat ke Medan. Sedang Julianty dan Anette sedang gelisah menunggu kabar dari dokter.
   Temanku pada banyak datang ke RS. Karena sebelum aku kecelakaan mereka sudah mencariku sejak jam 10 tadi pagi.
  Tepat pukul 23.26 wib, ortuku sampai di RS Pringadi. Namun luka di kepalaku membuatku belum sadar dari mimpi panjang itu.
   Semua orang panik, tetapi aku malah bahagia dalam mimpi indah itu. Bergandenga tangan, bermain petak umpet sampai kejar-kejaran.
   Walau dalam mimpi aku bahagia, tetapi sebenarnya air mataku mengalir dari kedua sudut mataku. Meski kedua mataku tertutup erat. Dan walau dalam keadaan koma, dapat ku rasakan kedua mataku disentuh lembut. Sentuhan itu berasal dari tangan Chris, teman seruangan Harder.
   Pukul 23.58 wib ku dengar suara Harder memanggilku. Suara itu amat keras memekak ditelingaku.
   Dengan berat, ku coba membuka mataku, tetapi tak ku lihat Harder disisiku. Yang ada hanya orang tuaku, temanku dan orang yang tak ku harapkan.
   Kenyataan itu menghantam kepalaku, pusing. Pusing yang ku rasakan menekan kepalaku. Ternyata suara Harder yang memanggil itu, ada dalam mimpi indahku.
   Pusing, kepalaku pusing.Air mataku mengalir. Ku sebut namanya, tetapi suaraku tenggelam dalam kenyataan pahit itu.
   Wajah panik tampak di wajah mereka. Air mata bahagia yang baru terlukis di wajah mereka kini berubah menjadi air mata ketakutan.
   Tepat pukul 00.00, 16 April, yang berarti hari ini ulang tahunku yang ke-20.
   Aku pun memilih untuk terlelap dan bermimpi lagi tentang dia.
   Aku lelah dengan kenyataan itu. Aku pun kini makin terlelap dan terlelap. Bermimpi indah tentang dia. Dan aku pun bahagia meski hanya dalam mimpi.
THE END


2 komentar: