Selasa, 24 September 2013
Finally found someone.wmv
Hanya Maaf
Hanya Maaf
Waktu terus mengalir begitu saja,
membuai bayang tentang dirimu.
Aku tenggelam dalam sejuta rasa yg tak menentu.
Akankah kau kembali?
Penantian kian merasuk,
membuai bayang tentang dirimu.
Aku tenggelam dalam sejuta rasa yg tak menentu.
Akankah kau kembali?
Penantian kian merasuk,
mengaliri seluruh keyakinanku,
bahwa semua yg ku lakukan akan sia-sia.
Kau tak akan pernah kembali.
Kesetiaan kini berubah sesal
Menghantui setiap mimpi tentangmu.
Ternyata benar kamu tak kembali.
Saat semua menjadi nyata, apa yg ku punya??
Saat semua menjadi nyata, apa yg ku punya??
Sebuah rasa benci yg
dulu ku tepis,
kini berubah menjadi malaikat kecil penawan luka.
Aku tak
kuasa.
Maafkan bila ku tak bisa menerima semua ini dgn percuma,
bukan
kemauanku, tapi semua terjadi begitu saja.
Saat kau memilih utk
mendengarkan mereka.
Dan tak peduli apa yg kurasakan..
Maaf, maaf, maaf....
Hanya kata itu yg bisa ku ucapkan.
Tak ada lagi selain itu.
Dan maaf.
Tentang Kau dan Dia II
,,,sambungan,,,
Sesampai di RS, dia langsung menerobos banyak
orang untuk menghampiriku.
“aku
disini beb,,,,” ucapnya dengan suara serak bercampur bahagia. Tetapi yang ditemuinya
masih bermain dengan alam mimpinya.
Malamnya, pukul 23.09 wib, aku kembali mengigo
memanggil Icanth dengan mengeluarkan air mata. Anthony yang kuberi nama Icanth
langsung menghampiriku.
Melihatnya, mama dan mamanya mengusap pundaknya
memberi dia semangat.
Paginya, pukul 01.29 wib, aku mengigo lagi
memangil dia.
Anthony yang tak bisa menutup matanya langsung
menjawab panggilannku. Meski jawaban itu tak berespon.
“aku
disini hasian, bangunlah aku tak ingin kehilanganmu!” ucapnya sambil menagis.
“Vayta,,, jangan siksa aku dengan begini. Tuhan bangunkan dia untuk kucintai.
Aku sayang dia. Bangulah sayang,,,,,,” lanjutnya.
Tetapi aku masih terlelap dan terlelap.
Terjebak dalam mimpi panjang yang tak ku tahu sampai kapan akan usai.
Paginya, pukul 04.16 wib, aku pun terbangun
dari mimpi panjang yang melelahkan itu. Ku dapati Anthony sedang mengengam
tanganku.Dan saat ku tarik tanganku, dia pun terbangun.
“Vayta,,,,,,!!!!”
ucapnya tak percaya.
Aku hanya tersenyum, dia semakin bingung tak
percaya dengan apa yang dilihatnya. Untuk menyakinkan apa yang dilihatnya, di
membangunkan mama dan mamanya.
“ma,,,
mama apakah aku sedang bermimpi?” tanyanya pada mamanya.
“ada
apa nak?” Tanya mamanya heran.
“nantulang,,
aku tidak bermimpi kan…!!!!”
“tidak
nak,,” jawab mama
“Vayta
ma, nantulang!”
Mama langsung menghampiriku, dan yang lain pada
bangun.
Mereka menangis terharu melihat aku sudah
terbagun. Dan beberapa menit kemudian dokter datang memeriksa keadaanku. Anthony langsung menelfon Fizu kawan-kawannya,
setelah dokter menyarankan aku untuk istirahat lagi.
Esok paginya Fizu dan Atha datang ke RS.Dan
dokter menyarankan kalau besoknya aku sudah bisa pulang berhubung lukaku tidak
ada yang serius.
Sorenya, setelah para pengunjung dan wartawan
pada pulang, papa Agus pun menceritakan semuanya.
Agus, putranya meninggal, karena livernya kambuh. Dia
menitipkan kotak dan sebuah surat untukku dan Anthony. Dan papa Agus
menyerahkannya padaku.
Ku buka dan ku baca isi surat itu dengan
linangan air mata.
Vayta ,,, ku tahu ini sangat
berat bagimu. Maafkan aku Vay,,,, jujur aku tak pernah membencimu ataupun marah
padamu selama ini. Aku sayang padamu Vay,,, sejak pertama kali aku mengenalmu.
Aku amat bahagia ketika keluargaku
mengetahui aku sayang padamu. Apalagi sewaktu kamu bilang kamu sayang padaku.
Sebenarnya aku ingin sekali
mengatakan aku juga menyayangimu, tetapi aku tak berani menentang jarak
diantara kita. Kau jauh dan aku tak ingin jauh darimu.
Vay,,, aku amat senang ketika
kamu datang ke Poltabes, meski waktu itu aku kalah tes, tetapi kebahagiaanku
adalah dirimu. Semangatku adalah dirimu.
Vay,,, aku juga amat bahagia
ketika keluargamu tidak melarangku sayang padamu. Dan aku masih ingat perkataan
nantulang waktu itu, aku harus jadi anak yang berhasil.
Vay,,, makasih juga buat
kebaikan, ketulusan, bahkan pengorbananmu untukku. Dan aku juga berterimakasih
atas kehadiranmu saat ultahku yang ke-17. Aku tahu kamu adalah yang abadi dihatiku.
Vay,,, maafkan aku atas kesalahanku
telah pergi dengan yang lain. Aku benar-benar cemburu melihatmu dengan yang
lain. Dan maafkan juga dengan semua perkataan mama yang telah membuatmu
tersinggung.
Dan ampuni aku untuk semua air
matamu yang mengalir karenaku.
Vay,,, Anthony adalah orang yang
benar-benar sayang kamu, aku salut padanya. Aku tahu dia tak akan
mengecewakanmu seperti aku,,
Berbahagialah dengannya Vay, aku tak
bisa bersama kalian, melihatmu tersenyum bahagia selamanya
Vay,,, aku tahu, kamu lagi sakit,
cepat berobat hasian ni si Anthony, disini ada cek, gunakan untuk biaya
berobatmu.
Anthony,,, aku tahu kamu sayang
dia dik,,, jagalah dia, jangan pernah membuatnya kecewa okey,,,
Aku tahu dari perjumpaan kita,
dua minggu lalu. Mungkin kamu tak menyangka kalau kita mencintai wanita yang
sama. Dan kamu juga ngak menyangka kan, mengapa kamu bisa seterbuka itu kepadaku. Mungkin itulah rencana Tuhan itu dik. Dan aku benar-benar cemburu padamu dik.
Aku juga amat menyesal, pernah membuatnya bersedih,,,
Dik,,, jaga dia baik-baik
yahhh,,,,
Oh yeahhh,,,, nanti tolong kalian
tanamkan pohon cemara di samping makamku.
Semoga kalian bahagia. Tuhan
beserta kalian.
I love U, Vayta,, you always in my heart,,
Agus Frans
Air mataku mengalir membaca isi suratnya itu,
begitu juga dengan Anthony. Ku usap air matanya dan dia pun langsung memelukku
amat erat.
Dua hari kemudian kami pulang ke kampungku,
sekalian ziarah ke makamnya.Tetapi sebelumnya Anthony minta izin pada mamanya
dan merestuinya.
Esoknya, kami ziarah ke makamnya.
Disana kami temukan segunduk tanah yang masih
basah. Dan disana juga ku temukan sebuah batu nisan bertuliskan AGUS FRANS.
Tubuhku lemah tak berdaya menemukan kenyataan yang tak pernah ku bayangkan
sebelumnya. Rasanya mimpi itu teramat berat ku terima. Ternyata kami sudah
berbeda, jauh,,, amat jauh berbeda.
Usai berdoa, kami pun menanamkan pohon cemara
didekat makamnya. Saat menanamkannya ku bisikkan kata-kata penguat hati melepas
kepergiannya.
“Gus,,,tenanglah
disana, aku sudah bahagia dengannya” ucapku lesu.
“bang,,,
aku akan menjaga Vayta untuk cinta kita padanya,,, tenanglah abang disana,,,”
Ku peluk Anthony di depan makamnya, ku terisak
menahan sesak hatiku. Karena jerit hatiku melumpuhkan ragaku.
Ohh,,, cinta, cinta, cinta,,,,,
Sebenarnya ada berapa orang cinta sejati itu???
Aghhh,,,, kau dan dia hanya ada dalam satu cinta
di hati ini,,, ini takdir,,, dan tak mungkin kita elak.
Selamat tinggal Agus, kita telah berbeda,
terimakasih untuk semua pelangi yang
pernah kau lukis di hatiku.
Cerita tentangmu akan selalu pengiring cinta
nyata itu, cinta aku dan Anthony, orang yang telah kau pilih tuk menitipkan
cintamu untukku.
THE END
Senin, 23 September 2013
Tentang Kau dan Dia
![]() |
| Vilyhe Vaytha |
Takdir Kita
Tuhan menciptakan dirimu dan dirinya dihidupku, untuk ku cintai.
Mungkin ini teramat sulit untukmu. Tapi satu
hal kamu yang harus tahu, dirinya dan dirimu hanya dalam satu cinta dihatiku.
Aghh,,, cinta tak dapat ditebak kapan datang dan
perginya. Tetapi kamu tak dapat mengelak kenyataan ini sayang, karena aku juga
tak menginginkan semua ini. Tetapi inilah takdirmu, takdirku, takdir kita.
Pagi itu, sepulang dari toko buku, aku dan Atha,
adik iparku menyebrang menggunakan jembatan selayang. Kami berjalan dengan
pikiran masing-masing.
Tiba-tiba teman lamaku menelfonku. Dibarengi
isak tangis, ku terima sebuah kabar yang membuat langkah kakiku terhenti. Jantungku
pun ikut terhenti sejenak.
“tak
mungkinnnn,,,,,,,” desisku pelan
Brukkkkkk,,,,,,,,,,,,
Suara itu membuatku terkaget. Ku lihat Atha
tergantung di jembatan itu, sebab papan penyanggahnya roboh.
Tanpa pikir panjang aku berlari, tetapi,,, aku
malah terperosok pada robohan yang baru.
Duarrrr,,,,,,,,,
Aku terjatuh, tepat pada sebuah truk berisi
pupuk. Atha menjerit memanggilku
“kak
Vaytaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,”
Aku langsung di bawa ke RS dan tak sadarkan diri
selama lebih 3 hari.
Saat itu Anthony dan Fizu langsung ke RS dan
menelfon ortuku. Dan mamaku, juga mama Anthony langsung berangkat ke Medan. Beliau
mendapat kabar, bahwa putrinya, Atha kecelakaan.
Sewaktu mama memasuki kamar tempat aku dirawat,
mama menemui Anthony sedang duduk disisiku dengan mata sembab dan berkata: yank
cepat sembuh.
Tetapi setalah mama datang, Anthony langsung
mempersilahkan mama duduk.
“ada
apa dengannya?” tanya mama setelah terdiam sejenak melihat keadaanku.
“dia
jatuh dari jembatan selayang nantulang” jawab Anthony
“siapa
yang menelfon tadi? Apakah kamu?” tanya mama
“ea
nantulang,,, sebenarnya dia tadi bersama adikku waktu kejadian itu, tetapi
adikku hanya tergantung disana!” tutur Anthony
Malamnya Atha dan mamanya datang ke RS. Mama
menyalam dan langsung memeluk mamanya.
“sabar
eda ya,,,”
“ea
da,, entah bagaimana lagi ini semua” kata mama sambil menangis.
Saat mama dan mamanya bercerita, Anthony hanya
duduk termenung menatapiku. Sedang Fizu dan Atha menatapi Anthony yang tak tahu
harus bagaimana membangunkanku.
Tiba-tiba aku mengigo memanggil nama Agus.
Semua tersentak kaget, tetapi yang lebih kaget adalah Anthony. Dia menatap mama
dan Fizu bergantian.
Mama langsung menghampiri Anthony dan mengusap
punggungnya. Mama menarik nafas amat dalam mengumpulkan kekuatan untuk
menjelaskan semuanya.
Tetapi Anthony mengerti situasi itu. Dan
sebelum mama cerita soal Agus, Anthony langsung berkata: nantulang sekarang itu
tidak penting, yang penting sekarang bagaimana Vayta bisa cepat sadar dan
sembuh.
Mama amat terkejut dengan perkataan Anthony,
mama tak menyangka Anthony punya pemikiran begitu.
Sesudah mengigo, aku kembali terlelap dan semua
terdiam lesu.
Sejam setelah kejadian itu papa nelfon. Beliau
menanyakan keadaanku dan memberitahukan soal kepergian Agus.
Hari Kedua
Temanku dan teman Anthony pada berdatangan. Mereka
simpati dengan keadaanku. Terbukti karena mereka berusaha keras menuntut
pemerintah daerah. Dan mereka meminta pemerintah daerah turun tangan dalam
keadaanku yang masih kritis. Koran-koran banyak membahas soal diriku.
Mama semakin hari semakin khawatir. Beliau
takut aku tak akan bangun dari mimpi panjang itu, padahal keadaanku tidak begitu
parah.
Malamnya pukul 00.29 wib, aku kembali mengigo
memanggil Agus. Waktu itu Anthony belum tidur. Sedang mama yang masih terjaga,
langsung bangun tetapi tidak menghampiriku. Dari jauh mama melihat Anthony
sedang menggenggam tanganku dan berkata: yank,, bangun yank,,, kasihan mama,
papa. Dia berkata sambil meneteskan air mata kemudian berdoa. Usai berdoa, dia
masih menatapiku tak berdaya.
Melihat itu mama baru mengerti, mengapa aku
begitu menyayanginya. Tetapi mama tak habis pikir mengapa harus Agus yang ku
panggil dalam setiap igoanku, mengapa bukan Anthony.
Hari Ketiga,
Papa dan papa Agus datang menjengukku. Saat itu
yang menjagaiku tinggal mama dan mama Anthony, sedang Anthony kuliah. Saat itu
juga aku kembali mengigo, memanggil Agus lagi. Papa Agus langsung menghampiriku
dan berkata: sabar nak, dia udah tenang di alamnya,,, bangunlah,,, lihat masa
depanmu yang begitu indah.
Meski sudah tiga kali mengigo, tetapi aku masih
belum bangun dari mimpi panjang itu. Aku masih terlelap dan terus terlelap.
Sorenya sekitar pukul 15.32 wib, aku mengigo memanggil nama yang berbeda. Aku
memanggil ICAN (Icanth). Mereka heran. Mama terdiam sejenak dan langsung
menelfon Fizu.
“Zu,,,
siapa yang bernama Icanth?”
“ngak
tau nantulang, tapi bentar aku Tanya Anthony” kata Fizu sambil mematikan
telfonnya.
“Thon
tau ngak siapa Icanth? Vayta mengigo menyebut nama itu!”
Mendengar itu Anthony, langsung cabut. Sambil
berlari, Anthony berteriak pada teman-temannya: TA aku yah,,, dia sedang
memanggilku.
Melihat tingkah Anthony, temannya pun berkata:
semoga Vayta sudah terbangun.
,,,bersambung,,,,,,
Minggu, 22 September 2013
Kamu Inspirasiku
“besok
ultaku, tinggal 19 jam lagi… hufhhhh,,,,,” desah panjangku keluar lagi, yang
akhir-akhir ini senantiasa menemani hariku.
Semenjak
putus dengannya, 16 Maret lalu. Aku lebih banyak mendesah, mengenang sebulan sebelum ulang
tahunku kami berpisah.
Kemarin
kami bertemu di lantai dasar. Dia tersenyum dengan senyuman khasnya, yang selalu
membuatku merindu.
Senyum
itu membuat darahku berdesir dan rasa bahagia mengalir dari ubun-ubunku. Tetapi
rasa itu menghilang seketika, waktu dia memanggilku “ito”.
Air
mataku bergumpal dalam bendungan, ingin merembes tetapi ku tahankan. Dengan sabar, ku
kuatkan hatiku menyebut “ito” juga padanya. Padahal selama ini aku ingin
mendengar bibir lembut itu menyebut “hasian”. Sama seperti dulu waktu bersama.
Kini
jam menunjukkan pukul 16.20 wib. Sekitar tujuh jam lagi 16 April menjemput. Aku
semakin mengeluh, mengenang tak ada pertanda dia akan kembali. Sama seperti
harapanku selama ini.
Aku
mulai lelah duduk termenung di sudut taman ini. Ku beranjak. Melangkah kemana
pun langkah kakiku menuntun. Kepalaku kini dipenuhi dengan beribu pertanyaan
yang tak mungkin ku jawab. Hatiku pun sesak membuatku tak sadar kemana aku
melangkah. Aku linglung.
Sejenak
aku tersadar. Aku sudah berada di tengah jalan raya, dan tiba-tiba
Bruukkkkk……
Aku
terpental.
Sebuah
tangan terulur menopangku bangkit. “senyum
itu” bisikku
Rasa
yang ku rasakan semalam, kini ku rasakan lagi. Dan sebuah kata mengalir dari
bibir lembut itu “bangkitlah hasian”
Tanpa
pikir panjang, aku bangkit dan berdiri di sampingnya. Dia mengajakku melangkah
bersama.
Aku
tak peduli dia mengajakku kemana pun yang dia mau. Aku hanya ingin pergi
bersamanya. Dan aku tak peduli ini mimpi atau tidak. Rasa egoisku ingin
bersamanya, membuatku tak perduli itu semua.
Di
sisi lain. Aku sedang dalam perjalanan menuju RS.
Sementara
aku bahagia dalam mimpi, pergi bersamanya. Dalam keadaan nyata nyawaku dalam
keadaan terancam. Aku jatuh pada titik tidak sadarkan diri pada jangka waktu
lama.
Mama
dan papa langsung berangkat ke Medan. Sedang Julianty dan Anette sedang gelisah
menunggu kabar dari dokter.
Temanku
pada banyak datang ke RS. Karena sebelum aku kecelakaan mereka sudah mencariku
sejak jam 10 tadi pagi.
Tepat pukul 23.26 wib, ortuku sampai di RS Pringadi. Namun luka di kepalaku membuatku belum sadar dari mimpi panjang itu.
Tepat pukul 23.26 wib, ortuku sampai di RS Pringadi. Namun luka di kepalaku membuatku belum sadar dari mimpi panjang itu.
Semua
orang panik, tetapi aku malah bahagia dalam mimpi indah itu. Bergandenga tangan,
bermain petak umpet sampai kejar-kejaran.
Walau
dalam mimpi aku bahagia, tetapi sebenarnya air mataku mengalir dari kedua sudut
mataku. Meski kedua mataku tertutup erat. Dan walau dalam keadaan koma, dapat ku
rasakan kedua mataku disentuh lembut. Sentuhan itu berasal dari tangan Chris,
teman seruangan Harder.
Pukul
23.58 wib ku dengar suara Harder memanggilku. Suara itu amat keras memekak ditelingaku.
Dengan
berat, ku coba membuka mataku, tetapi tak ku lihat Harder disisiku. Yang ada
hanya orang tuaku, temanku dan orang yang tak ku harapkan.
Kenyataan
itu menghantam kepalaku, pusing. Pusing yang ku rasakan menekan kepalaku.
Ternyata suara Harder yang memanggil itu, ada dalam mimpi indahku.
Pusing,
kepalaku pusing.Air mataku mengalir. Ku sebut namanya, tetapi suaraku tenggelam
dalam kenyataan pahit itu.
Wajah
panik tampak di wajah mereka. Air mata bahagia yang baru terlukis di wajah
mereka kini berubah menjadi air mata ketakutan.
Tepat
pukul 00.00, 16 April, yang berarti hari ini ulang tahunku yang ke-20.
Aku
pun memilih untuk terlelap dan bermimpi lagi tentang dia.
Aku
lelah dengan kenyataan itu. Aku pun kini makin terlelap dan terlelap. Bermimpi
indah tentang dia. Dan aku pun bahagia meski hanya dalam mimpi.
THE
END
Langganan:
Komentar (Atom)




